Welcome to

Astronomy Event

Berita dan Ensiklopedia Alam Semesta
Force = Mass times Acceleration
Join us on

Sungai Nil Ada di Titan

Ditemukan di Titan. Panjangnya 200 mil. Mirip dengan sungai Nil

 Saturnus (foto ilustrasi) (blogit.yle.fi)

Astronomy Event - Peneliti dari Badan Antariksa Nasional AS, NASA, memaparkan temuan unik, menemukan sungai Nil di satelit Saturnus, Titan.
 
Karena karakteristik dan bentuknya mirip, peneliti menyamakan sungai itu dengan sungai terkenal di Bumi, Sungai Nil, seperti dilansir Discovery Mag, 24 Oktober 2013.

Sungai yang dinamakan Vid Flumina itu mengalir sepanjang 200 mil dengan pola yang sama dengan sungai Nil. Peran sungai itu juga sama dengan sungai Nil, yaitu berperan sebagai lanskap daratan.

Sungai di Titan juga melalui medan miring dan kasar. Ada pula anak sungai yang mengalir ke dalam daratan dan laut luas.

Temuan ini sebenarnya sudah disampaikan hampir setahun silam, tepatnya Desember 2012, oleh ilmuwan planet dari Brigham Young University di pesawat ruang angkasa Cassini, Jani Radebaugh bersama tm internasional.

Sebenarnya, sungai di Titan itu bukanlah fokus pengamatan Cassini. Awalnya pesawat itu mengorbiti Saturnus dan mempelajari Titan sejak tahun 2004.

Peneliti mengharapkan akan menemukan metana cair di permukaan Titan, yang terkenal kaya akan metana. Wilayah yang diamati pada adalah khatulistiwa Titan. Sayangnya, peneliti tak menemukan sungai atau laut di area tersebut.

Akhirnya, orbit Cassini digeser untuk mengamati area lain. Nah, begitu bergeser ke area kutub Titan, sinyal radar Cassini berhenti, dan menemukan daerah gelap dengan bintik-bintik yang tak memantul.

Stelah didalami ternyata bintik itu merupakan sungai. Menariknya, tekstur sungai itu mirip sungai Nil di Bumi. "Tampaknya ada cairan yang mengalir melalui sungai tersebut," jelas dia.

Petunjuk geologi

Radebauhg meyakini, tata letak sungai yang relatif lurus merupakan petunjuk geologi Titan di masa lalu. Fitur lurus, kata dia, menunjukkan adanya penyebaran terpisah dari lanskap, yang kemungkinan disebabkan pergerakan lempeng tektonik seperti yang ada di Bumi.

"Mungkin sudah ada tektonik aktif yang membentuk lanskap itu," kata dia.

Pemahaman tektonik di Titan akan memberi petunjuk bagi ilmuwan untuk melihat model dalam bulan.

"Dengan memahami bagian dalam bulan, Anda akan tahu bagaimana bulan terbentuk serta bagaimana interaksi dengan planet yang diorbitinya," ujar Steve Wall, pemimpin deputi Radar Cassini.

Setelah temuan ini, Radebaugh mengajukan perpanjangan misi Cassini yang akan berakhir pada tahun 2017 nanti.

"Ini adalah tubuh bulan yang luar biasa, dan kami nyaris memasuki tahap awal untuk memahaminya," ujar Wall.


Sumber: Viva.co.id

Share this:

ABOUTAUTHOR

Hi! Kalian boleh panggil aku "Admin N". Aku yang ada dibalik pembuatan post, pengembangan blog, dan yang suka ngetik-ngetik Tweet di Twitter dan status di Facebook. Support Astronomy Event terus ya! Dan juga support perkembangan ilmu astronomi di Indonesia!

JOIN CONVERSATION

    Blogger Comment
    Facebook Comment

0 komentar:

Posting Komentar